Timika, Papua Tengah- Yohanis Yance Boyau yang merupakan salah satu tokoh adat suku Kamoro itu meminta agar, pertemuan dalam rangka penyelesaian masalah tapal batas di Kapiraya yang akan dilaksanakan di Nabire pada Hari Kamis 16 April 2026 itu dibatalkan atau ditunda. Pernyataan ini disampaikan lantaran pihaknya selaku toko Adat Suku Kamoro lainnya tidak diundang dalam rencana pertemuan dimaksud.
“Saya sangat kecewa dan menyesal, karena kami masyarakat adat yang ada di jantung Kabupaten Mimika ini tidak dilibatkan. Masalah Adat ini tidak semudah apa yang pemerintah pikir, yang diundang itu sedikit orang dan pertemuan ini tidak akan menyelesaikan masalah”. Tegas Yance melalui Pers rilis yang diterimah media ini Rabu (15/04/2026).
Menurut Yance, jika pertemuan tetap dipaksakan untuk dilaksanakan, maka hanya menyelesaikan masalah di tingkat Provinsi Papua Tengah. Bukan di lokasi kejadian, dan sangat disayangkan jika kemudian berbuntut lain di kemudian hari.
“Tapi tidak akan selesai di Kapiraya, karena kami tokoh-tokoh adat yang punya tanah adat. Kemudian masalah tapal batas adat ini sangat sensitif, tidak bisa dibicarakan kalau tidak melibatkan seluruh tokoh-tokoh adat yang ada di Kapiraya, karena itu sudah terlalu melewati batas”. Sorot Yance.
Dalam keterangan resminya itu Yance juga memprediksikan, jika kegiatan dimaksud dipaksakan untuk dilaksanakan maka besar kemungkinan tidak akan membuahkan hasil yang maksimal dan kemungkinan meninggalkan bom waktu ke depan dan kapan saja bisa terjadi hal lain yang tidak diinginkan.
“ Kemungkinan besar rapat di Nabire tidak akan ada hasil penyelesaikan. Walaupun dibicarakan di sana tapi di TKP tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara pemerintah, karena masyarakat sudah tahu apa yang mau dibuat oleh pemerintah”. Tambahnya.
Karena itu ia kembali meminta agar rapat tersebut ditunda, selanjutnya diagendakan ulang dengan melibatkan seluruh pihak terkait, yang terutama adalah tokoh-tokoh Adat Suku Kamoro.
“ Itu yang mau saya sampaikan. Pada dasarnya kami tokoh-tokoh adat Suku Kamoro harus dilibatkan dan rapat besok ditunda, dibicarakan baik-baik dulu dengan semua pihak baru dilaksanakan. Kalau tidak, maka tidak akan ada titik temu. Koordinasikan baik-baik dulu, jangan sepihak. Itu baru bisa ada titik terang,” Tegas Yance.
Selain itu perlu adanya pendekatan persuasif atau mengandalkan pendekatan adat sebagai wadah dan corong komunikasi yang baik serta mengedukasi warga masyarakat adat.
“Jadi kita bicara dari hati ke hati dengan tokoh-tokoh adat dan kepala-kepala suku yang ada di Kota Timika di Kabupaten Mimika. Tolong dilibatkan dalam rapat penyelesaian dan tempatnya di mana kita harus bicara secara bersama-sama,” Harapnya. (tMp).









