SOA-SIO, Loloda — Sejarah tidak selalu tinggal di dalam buku. Ada sejarah yang hidup dalam ingatan, dalam adat, dalam tutur para tetua, dalam simbol-simbol kebudayaan, dan dalam lembaga tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di Loloda, jejak itu masih ada.

Ia hadir dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam keberadaan Kekolanoan Moloku Loloda, dan dalam ikhtiar masyarakat untuk menjaga identitas kebudayaan yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Maluku Utara. Namun, sebuah warisan tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu dirawat, dipahami, diperkuat, dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan kehidupan masa kini.

Kesadaran inilah yang menjadi pijakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun melalui sosialisasi “Penguatan Institusi Tradisional Kekolanoan Moloku Loloda sebagai Ekosistem Kebudayaan dan Pariwisata di Maluku Utara”, yang berlangsung di Pendopo Ici Kekolanoan Moloku Loloda, Desa Soa-Sio, Kecamatan Loloda, Kabupaten Halmahera Barat, Kamis, 24 September 2026.

Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda sosialisasi. Ia menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dan pengetahuan masyarakat, antara perguruan tinggi dan komunitas adat, serta antara jejak sejarah masa lalu dan gagasan tentang masa depan kebudayaan Loloda. Di tempat inilah perguruan tinggi hadir bukan untuk berbicara tentang masyarakat, tetapi bersama masyarakat.

Ketika Sejarah Perlu Dihidupkan Kembali

Loloda merupakan salah satu entitas sejarah dan kebudayaan yang memiliki kekayaan tradisi serta identitas yang khas di Maluku Utara. Di tengah ingatan publik yang selama ini lebih banyak mengenal Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo sebagai pusat-pusat sejarah Moloku Kie Raha, keberadaan Moloku Loloda menyimpan narasi sejarah yang tidak kalah penting untuk terus ditelusuri, dirawat, dan diwariskan.

Sejak kelembagaan Kekolanoan kembali dihidupkan pada 2016, muncul harapan agar institusi tradisional tersebut tidak berhenti sebagai simbol sejarah. Sebaliknya, keberadaannya diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkuat identitas masyarakat, menjaga nilai-nilai budaya, mempertemukan generasi tua dan generasi muda, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan kebudayaan dan pariwisata yang berpijak pada karakter lokal.

Di sinilah tantangan sekaligus peluang itu berada. Warisan budaya akan sulit bertahan apabila hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Ia membutuhkan ruang, kelembagaan, partisipasi masyarakat, dokumentasi, pengetahuan, dan generasi penerus yang merasa memiliki. Karena itu, penguatan Kekolanoan tidak dimaknai sebagai upaya mengembalikan sistem sosial masa lalu, melainkan sebagai ikhtiar untuk menjadikan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan masyarakat hari ini dan masa depan.

Dari Kampus untuk Masyarakat, Dari Masyarakat untuk Pengetahuan

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat FIB Universitas Khairun. Kampus ditempatkan bukan hanya sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam menemukan, merawat, dan mengembangkan potensi kebudayaan lokal. Semangat tersebut sejalan dengan gagasan Kampus Berdampak, di mana pengetahuan akademik diharapkan tidak berhenti di ruang kelas atau di dalam dokumen penelitian, tetapi hadir dan memberikan manfaat nyata di tengah masyarakat.

Dalam konteks Loloda, keberadaan perguruan tinggi menjadi penting karena penguatan kebudayaan membutuhkan pertemuan berbagai pengetahuan: pengetahuan masyarakat, pengalaman tokoh adat, sejarah lisan, kajian akademik, dokumentasi, pendidikan, hingga strategi pengembangan pariwisata.

Dengan demikian, PKM ini tidak hanya membawa pengetahuan dari kampus ke desa. Kampus juga belajar dari masyarakat. Mahasiswa dan akademisi memperoleh kesempatan untuk memahami kebudayaan melalui pengalaman langsung, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk mendiskusikan kembali kekayaan pengetahuan yang selama ini mereka miliki. Pertemuan dua arah inilah yang menjadikan pengabdian memiliki makna lebih jauh: bukan sekadar memberi, tetapi membangun bersama.

Institusi Kekolanoan sebagai Ruang Kebudayaan yang Hidup

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perangkat lembaga Kekolanoan Moloku Loloda, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan generasi muda. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan kebudayaan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Kebudayaan adalah milik bersama.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Jo Hukum Kekolanoan Moloku Loloda, Rusdi Maxud, yang menyambut baik kehadiran tim pengabdian FIB Universitas Khairun.

“Langkah ini bukan sekadar pertemuan, melainkan upaya menghidupkan kembali jati diri yang tak boleh pudar. Semoga kehadiran kita hari ini menjadi benih yang tumbuh menguatkan kembali keberadaan institusi kita, demi anak cucu Loloda di masa depan.”

Pernyataan tersebut menjadi penanda penting bahwa penguatan Kekolanoan bukan semata-mata berbicara tentang sebuah institusi adat, tetapi juga mengenai keberlanjutan identitas dan ingatan sebuah masyarakat.

Pendopo Ici: Lebih dari Sekadar Bangunan

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah keberadaan Pendopo Ici Kekolanoan Moloku Loloda yang pembangunannya digagas secara swadaya oleh masyarakat sejak 2025.

Penyelesaian pendopo menjadi penting bukan hanya dari aspek fisik. Bangunan tersebut berpotensi menjadi ruang bersama: tempat musyawarah, penerimaan tamu, pelaksanaan kegiatan adat, penyimpanan dan pengenalan pengetahuan budaya, sekaligus ruang interaksi antara masyarakat dan pengunjung. Dengan kata lain, pendopo dapat menjadi rumah kebudayaan bagi Loloda.

Karena itu, penyelesaian pembangunan pendopo ditempatkan sebagai salah satu bagian dari penguatan fisik-materiil, bersamaan dengan penguatan nonmateriil melalui sosialisasi, edukasi, pendampingan, dan peningkatan kesadaran masyarakat. Sebab sebuah bangunan akan menjadi bermakna ketika masyarakat merasa bahwa bangunan tersebut adalah bagian dari dirinya.

Mengubah Warisan Menjadi Masa Depan

Ketua Tim Pengabdian, Mustafa Mansur, S.S., M.Hum., menekankan bahwa institusi tradisional Kekolanoan Moloku Loloda dapat dipandang sebagai aset kebudayaan yang memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat masa kini.

“Dukungan masyarakat terhadap keberadaan institusi tradisional sangatlah krusial. Ketika kita menjaga lembaga ini, kita tidak sedang hidup di masa lalu—kita sedang membangun identitas yang menjadi daya tarik sekaligus kebanggaan.”

Pandangan tersebut menempatkan kebudayaan bukan sebagai sesuatu yang beku. Sebaliknya, kebudayaan dapat menjadi modal sosial, sumber pengetahuan, identitas, dan bahkan ruang ekonomi baru bagi masyarakat, sepanjang dikembangkan secara hati-hati, berakar pada nilai lokal, serta tidak menghilangkan makna dan martabat budaya itu sendiri. Dalam perspektif inilah pariwisata budaya menjadi relevan.

Wisatawan pada akhirnya tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi. Mereka juga mencari cerita, pengalaman, pengetahuan, dan hubungan dengan kehidupan masyarakat setempat. Loloda memiliki modal tersebut. Sejarahnya memiliki cerita. Kekolanoannya memiliki kelembagaan. Masyarakatnya memiliki pengetahuan. Tradisinya memiliki nilai. Dan alamnya memiliki ruang yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Yang diperlukan adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara bijaksana sehingga kebudayaan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi tetap menjadi sumber kehidupan dan kebanggaan masyarakat.

Membangun Kesadaran Kolektif

Karena itu, ukuran keberhasilan kegiatan PKM ini tidak semata-mata terletak pada terselenggaranya sosialisasi atau terselesaikannya sebuah bangunan. Ukuran yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran kolektif.

Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa keberadaan Kekolanoan merupakan bagian dari identitas sejarah mereka; generasi muda memiliki ruang untuk mengenal dan mempelajari warisan tersebut; para pemangku adat memperoleh dukungan dalam menjalankan fungsi kebudayaan; dan perguruan tinggi terus hadir sebagai mitra dalam proses dokumentasi, edukasi, serta pengembangan kebudayaan.

Jika kesadaran itu tumbuh, maka sebuah lembaga tradisional tidak hanya akan bertahan sebagai nama. Ia akan hidup melalui praktik. Ia akan hidup dalam pengetahuan generasi muda. Ia akan hidup dalam ruang-ruang kebudayaan. Dan ia dapat tumbuh menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari Soa-Sio untuk Masa Depan Loloda

Pada akhirnya, kegiatan pengabdian FIB Universitas Khairun di Soa-Sio membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan sebuah institusi tradisional. Ia berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat menatap masa depannya tanpa kehilangan hubungan dengan masa lalunya.

Ia dapat menjadi bagian dari percakapan tentang masa depan—selama nilai-nilainya dipahami, keberadaannya didukung, dan ruang hidupnya terus dibangun bersama.

Dari Soa-Sio, sebuah langkah kecil sedang dimulai: menguatkan kembali jejak sejarah, merawat identitas, mempertemukan pengetahuan kampus dengan pengetahuan masyarakat, dan membuka jalan bagi kebudayaan Loloda untuk hadir lebih kuat dalam masa depan Maluku Utara.

Sebab ketika sebuah masyarakat mampu merawat ingatannya, sesungguhnya ia sedang merawat masa depannya. Dan ketika Loloda menghidupkan kembali jejak sejarahnya, yang sedang dibangun bukan hanya sebuah pendopo atau sebuah institusi—melainkan sebuah jembatan dari masa lalu menuju masa depan. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *