MIMIKA – Di tengah gencarnya pembangunan fisik yang mendominasi penggunaan Dana Desa di berbagai pelosok negeri, Pemerintah Kampung Nawaripi, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, justru mengambil langkah berani yang melampaui batas geografis. Bukan beton atau aspal yang menjadi prioritas utama, melainkan masa depan dua putri asli suku Kamoro.

Maria Gema Mepere (11) dan Ida Maria Saloma Mepere (9) kini memulai babak baru dalam hidup mereka. Keduanya resmi menempuh pendidikan di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara—sebuah wilayah yang dikenal memiliki tradisi pendidikan yang kuat. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Dana Desa mampu menjadi mesin penggerak kualitas sumber daya manusia (SDM) jika dikelola dengan visi yang tepat.

Sambutan Hangat di Tanah Kei

foto bersama para siswa SD NK Mathias Langgur/A

Kedua siswi tersebut diterima di SD NK Mathias Langgur/A, di bawah naungan Yayasan Asthi Dharma Langgur. Kedatangan Maria dan Ida disambut penuh sukacita oleh pihak sekolah. Kepala Sekolah, Saverius Rahabav, menegaskan bahwa perbedaan geografis bukan penghalang bagi persaudaraan dalam dunia pendidikan.

“Mereka adalah saudara kita. Maria dan Ida kini menjadi bagian dari komunitas kami di sini,” ungkap Saverius dengan hangat.

Terobosan Luar Biasa: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Fisik

Langkah progresif ini menuai apresiasi tinggi dari kalangan akademisi. Pengamat Pendidikan dari Universitas Pattimura, Dr. Yohanes Hiariej, menyebut kebijakan Kampung Nawaripi sebagai “Oase” di tengah tren pembangunan desa yang seringkali hanya fokus pada proyek fisik.

“Ini adalah contoh nyata investasi pendidikan yang berdampak jangka panjang. Nawaripi menunjukkan keberanian untuk memprioritaskan manusia. Saat banyak desa terjebak pada pembangunan infrastruktur, Nawaripi justru berinvestasi pada masa depan,” puji Dr. Yohanes.

Visi Sang Kepala Kampung

Bagi Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, alokasi Dana Desa untuk membiayai sekolah, akomodasi, hingga kebutuhan hidup kedua siswi tersebut adalah kewajiban moral. Ia meyakini bahwa akses pendidikan terbaik adalah hak anak-anak suku asli.

“Pendidikan adalah kunci kemajuan. Kami tidak ingin generasi muda kami tertinggal. Pemerintah kampung berkomitmen memberikan akses terbaik agar mereka bisa kembali dan membangun tanah kelahirannya suatu saat nanti,” tegas Norman.

Inspirasi dari Mimika untuk Indonesia

Inisiatif dari Kampung Nawaripi ini menjadi pesan kuat bagi desa-desa lain di Papua maupun di seluruh Indonesia. Bahwa Dana Desa bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan alat untuk mencetak generasi unggul yang siap menjawab tantangan zaman.

Dengan keberangkatan Maria dan Ida ke Maluku Tenggara, Nawaripi sedang menanam benih perubahan—sebuah investasi yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu malam, namun akan berbuah manis bagi kemajuan peradaban suku Kamoro di masa depan.

(Tmk,01)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *