Arafik A. Rahman

Tulisan ini sengaja ditulis pada Hari Pers Nasional, 09 februari untuk menggugah teman-teman pers di mana pun berada. Bukan untuk menggurui, apalagi menghakimi, melainkan sebagai alarm kecil agar kita semua sesekali berhenti, menoleh ke belakang, dan bertanya: masihkah kita berjalan di jalan yang benar? Sebab pers, sebagaimana kekuasaan, selalu memiliki godaan untuk menyimpang ketika jarak kritis mulai menghilang dan nurani perlahan dinegosiasikan.

Ada satu pemandangan yang nyaris menjadi rutinitas elite kita: secangkir kopi panas, meja bundar, tawa ringan dan obrolan yang katanya santai tapi sesungguhnya sarat kepentingan. Di sudut meja itu, duduk seorang wartawan bukan untuk mewawancarai, melainkan untuk menemani. Camera digital diletakkan, catatan ditutup, dan percakapan mengalir tanpa pertanyaan. Pertanyaannya sederhana namun menggelitik: ketika pers sudah duduk manis di meja kopi kekuasaan, masihkah ia sanggup berdiri tegak di hadapan publik?

Di kalangan jurnalis daerah, beredar candaan yang terdengar lucu tapi sesungguhnya getir: “Kalau belum ngopi dengan pejabat, berarti belum dapat berita.” Candaan ini seolah menormalisasi satu hal berbahaya, bahwa akses dianggap lebih penting daripada jarak kritis. Padahal access is not independence: akses bukanlah independensi. Kedekatan boleh membuka pintu informasi, tetapi hanya jarak yang menjaga kewarasan pers.

Realitas itu sering hadir tanpa topeng. Seorang wartawan meliput sebuah agenda pemerintah. Acara selesai, amplop kecil berpindah tangan. Tidak ada ancaman, tidak ada paksaan. Semuanya dibungkus senyum dan kalimat ringan: “Sekadar uang kopi.” Keesokan harinya, berita terbit dengan judul memuji. Kata-kata “berhasil”, “luar biasa”, dan “visioner” berderet rapi. Tak ada kritik, tak ada pertanyaan. Bukan karena tak ada masalah, melainkan karena nurani sudah lebih dulu berkompromi.

Di titik itu, jurnalisme bergeser pelan-pelan dari kerja etis menjadi kerja relasional. Pers tidak lagi bertanya “apa dampaknya bagi publik?”, tetapi “siapa yang memberi akses?”. Padahal journalism is not friendship, it is responsibility, jurnalisme bukan soal pertemanan, melainkan tanggung jawab. Ketika berita ditulis sebagai balas jasa, maka publiklah yang pertama kali dirugikan.

Secara akademis, pers dikenal sebagai watchdog, anjing penjaga demokrasi. Namun anjing penjaga yang terlalu sering diajak duduk di meja makan tuannya, lama-lama lupa menggonggong. Demokrasi pun kehilangan alarmnya. When the press stops questioning, power starts abusing, ketika pers berhenti bertanya, kekuasaan mulai menyalahgunakan wewenang.

Di daerah, persoalan ini menjadi lebih kompleks. Wartawan tidak hanya bertemu pejabat di ruang konferensi pers, tetapi juga di warung kopi, hajatan keluarga, bahkan satu meja di sore hari. Relasi sosial yang rapat sering membuat kritik dianggap sebagai permusuhan personal. Namun di situlah ujian etik pers menjadi nyata: berani menjaga jarak di tengah kedekatan. Truth does not need permission: kebenaran tidak membutuhkan izin.

Pers harus terus mengingat satu hal penting: ia tidak diciptakan untuk menjadi tim sukses kekuasaan, baik sebelum maupun sesudah pemilu. Pers bukan alat legitimasi, melainkan alat koreksi. The role of the press is not to please power, but to question it, peran pers bukan menyenangkan kekuasaan, melainkan mempertanyakannya. Tanpa fungsi ini, berita hanya akan menjelma menjadi brosur yang disamarkan.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momen bercermin, bukan sekadar merayakan profesi. Apakah pers masih berdiri di luar lingkaran kuasa, atau sudah terlalu nyaman duduk di dalamnya? Apakah wartawan masih membawa pertanyaan, atau hanya membawa Android untuk merekam pujian? Di tengah banjir informasi dan tekanan ekonomi media, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin relevan.

Jadi teman-teman, pers boleh minum kopi dengan siapa saja, tetapi tidak boleh mabuk oleh kedekatan. Pers boleh memiliki akses, tetapi tidak boleh kehilangan independensi. Sebab integrity is the last capital of journalism, integritas adalah modal terakhir jurnalisme. Jika itu runtuh, maka yang tersisa hanyalah nama media tanpa makna.

Mari kita kembalikan pers ke posisi sebenarnya: berdiri tegak, menjaga jarak dan berpihak pada kepentingan publik. Karena pers yang berintegritas tidak lahir dari meja kopi kekuasaan, melainkan dari keberanian untuk berkata jujur, meski sendirian.

“Selamat Hari Pers Nasional, 09 April 2026.
Tetap merdeka, tetap menjaga jarak dan tetap berpihak pada kepentingan publik.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *