Langgur, Maluku – Metode kolaborasi, dimana perpaduan antara sistem nilai Adat, Pemerintah serta Agama dalam memberi atensi demi upaya membendung terjadinya potensi mabuk-mabukan hingga berujung pada gangguan Kamtibmas melalui ritual adat dengan memasang sasi (Hawear) dan Misa khusus menjelang masa Prapaska untuk Gereja Katolik dan Protestan sekaligus kepala puasa Ramadhan 1447 H bagi Umat Muslim adalah upaya merawat kehidupan harmonis warga di wilayah Paroki Hati Kudus Bombay Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, patut diapresiasi dan diacungkan jempol.
Hal tersebut disampaikan Erik Fatubun salah satu pemuda Ohoi Soinrat kepada Nonakonews.com, Jumat 20/02/2025
”Terimah kasih kepada Tokoh Adat, Pastor Paroki dan Pemerintah Ohoi serta semua pihak, saya secara pribadi salut atas metode itu karena ini paduan unsur Adat, Pemerintah dan Agama yang sungguh memberi nilai dan catatan baru untuk tahun 2026 ini”. Ungkapnya.
Lebih lanjut Erik mengatakan, kendati perayaan misa Rabu abu bagi umat Katholik di Tahun 2026 ini sebagai awal masa Prapaska juga bertepatan dengan hari pertama bagi umat muslim dalam menjalani bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah dengan demikian ini adalah suatu berkat yang luar biasa bagi segenap umat manusia.
”Paroki kami yaitu Paroki Hati Kudus meliputi Soinrat, Bombay, Watsin dan Sitbante, yang secara teritorial adat kami sebut Hoarngutru terdiri dari Wakol, Ngurdu, Soinrat, Wearmaf, Bombay, Elralang, Watsin, Sirbante. Ngat sehingga toleransi terhadap saudara kami yang Muslim untuk Ramadhan dan juga Prapaska bagi gereja Katholik dan Protestan perlu dijaga bersama”. Ujar Erik
Ia mengatakan, di wilayah adat Hoarngtru ada sejumlah Ohoi Muslim yang secara adat adalah satu kesatuan yang yang tidak dapat dipisahkan, karena memiliki keterikatan kehidupan sejak leluhur hingga pengakuan pemerintah yang disatukan dalam satu kesatuan yaitu Desa Elralang.
”Kami semua Desa Elralang secara Pemerintahan, dan Hoarngtru itu wilayah otonom adat kami, sementara kami Soinrat secara Gereja masuk dalam Paroki Hati Kudus dan Bombay sebagai Ibu Paroki, sehingga bagi kami apa yang dikatakan dalam bahasa Kei dengan sebutan Adat, Kubni dan Aingam cukup jelas”. Tuturnya
Erik Fatubun yang juga merupakan Sekertaris Partai Ummat Kabupaten Maluku Tenggara itu berhadap, momentum ini semoga menjadi sebuah langkah maju dan awal sebuan kemajuan dan perubahan peradaban yang lebih baik ke depan dengan peran semua unsur dalam kehidupan bermasyarakat.
”Ini bagi saya adalah kemajuan dan terbuktinya toleransi yang baik, peran pemuda harus lebih digenjot, pemerintah harus beri ruang bagi semua elemen dalam konsep kolaborasi, dengan demikian kebersamaan mengurai semua batas dan ruang publik yang yang terisolasi”. Harapnya, (Mn01)





