Ternate — Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku Utara, Drs. Samsuddin Abdul Kadir, M.Si secara resmi membuka kegiatan pertemuan Technical Working Group (TWG) Proyek CDCSUI (Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia) kerjasama KEMENTAN-FAO dan GEF. Dalam sambutannya, Sekda menekankan bahwa tanaman cengkeh dan pala bukan sekadar komoditas pertanian biasa, melainkan warisan budaya, saksi sejarah perdagangan dunia, serta identitas utama masyarakat Maluku Utara, di Halmahera room, Hotel Bela Ternate (Senin, 21/9).
Samsudin menyebut konservasi keanekaragaman hayati perlu diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan daerah. Sekda memberi gambaran mengenai dinamika global saat ini, di mana negara-negara kaya di kawasan utara — seperti Norwegia yang terancam pelelehan es kutub dan mulai memberikan kompensasi karbon kepada negara-negara khatulistiwa yang menjaga kelestarian hutannya.
“Dunia saat ini mulai berbalas jasa melalui skema perdagangan karbon. Kalimantan Timur contohnya, telah menerima insentif hingga ratusan miliar rupiah karena berhasil mendaftarkan dan menjaga hutannya. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran konservasi,” ujar Sekda.
Saksi Perubahan Jalur Perdagangan Dunia
Dalam kesempatan tersebut, Sekda Malut mengulas kembali sejarah panjang yang menempatkan Maluku Utara di pusat peradaban dunia. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan Sultan Muhammad Al-Fatih pada 1453 dan berakhirnya kekuasaan Granada pada 1492 menyebabkan jalur perdagangan darat dan laut antara Eropa dan Asia terputus.
Kondisi tersebut memicu pencarian jalur laut baru oleh bangsa Eropa demi mendapatkan rempah-rempah, terutama cengkeh dan pala dari Kepulauan Maluku. Melalui Perjanjian Tordesillas pada 1494, Portugis berlayar ke arah timur hingga mencapai Malaka pada 1511, sementara Spanyol menempuh jalur barat melalui Samudra Pasifik di bawah ekspedisi Ferdinand Magellan.
“Titik puncak dari pencarian rempah-rempah ini adalah bertemunya bangsa Spanyol di Tidore dan Portugis di Ternate. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi bukti sejarah pertama di dunia bahwa bumi itu bulat,” ungkap Sekda.
Namun, sejarah panjang tersebut juga menyisakan catatan kelam, seperti kebijakan hongi tochten dan penebangan pohon cengkeh (extirpatie) oleh VOC Belanda untuk mengendalikan harga pasar, yang tersisa hanya di wilayah pegunungan seperti Cengkeh Afo di wilayah Marikurubu.
Upaya Menjaga Bukti Sejarah untuk Generasi Mendatang
Mengakhiri sambutannya, Sekda menegaskan bahwa program penguatan dan pengembangan kembali tanaman pala dan cengkeh sangat krusial untuk dilakukan hari ini. Tanpa langkah nyata dalam mempertahankan keberadaan tanaman-tanaman bersejarah tersebut, generasi mendatang berisiko kehilangan keterikatan dengan sejarah besar daerahnya.
“Konservasi ini penting agar cerita sejarah ini tidak dianggap sekadar cerita rekaan oleh anak cucu kita. Kita harus menjaga keberlanjutan cengkeh dan pala sebagai identitas dan bukti nyata kontribusi Maluku Utara terhadap konektivitas global,” pungkasnya.
Melalui kegiatan TWG CDCSUI ini, diharapkan tercipta langkah-langkah strategis dalam merumuskan kebijakan konservasi keanekaragaman hayati tanaman yang berkelanjutan di Maluku Utara.
Pertemuan tersebut dihadiri pejabat FAO dan GEF selaku donor dalam Proyek CDCSUI di Maluku Utara diantaranya Rajendra Aryal (FAO Indonesia dan Timur Leste, Refresentatif), Sameer Karki (GEF Technical Officer regional Asia pasifik), Dong Le (Lead Technical Officer FAO regional Asia pasifik), Kepala BRMP Malut Warsita, FAO Jakarta, dan tim PMU CDCSUI, pimpinan OPD Provinsi Maluku Utara, pimpinan OPD Kota Tidore Kepulauan, pimpinan OPD Kabupaten Halmahera Selatan, Perwakilan Kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, serta tamu undangan lainnya. (tim/red)











