Ternate — Mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun kini memiliki ruang belajar baru yang dirancang untuk mendekatkan pembelajaran kampus dengan praktik dunia usaha dan dunia kerja.

Ruang tersebut hadir melalui Cakrawala Coffee, unit usaha yang dikembangkan dalam skema Teaching Factory (TEFA) Program Studi Usaha Perjalanan Wisata. Cakrawala Coffee resmi diluncurkan dalam acara peresmian (opening ceremony) di Ruang Teaching Factory, Rabu (16/9/2026).

Peluncuran dilakukan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Nurain Jalaluddin, S.S., M.A. Unit usaha tersebut berada di bawah binaan Teaching Factory yang diketuai oleh Vidia Agmareini Hirto, S.Par., M.Par.

Kehadiran Cakrawala Coffee tidak hanya diarahkan sebagai tempat penyediaan minuman kopi, tetapi juga sebagai ruang praktik bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman mengelola usaha secara langsung.

Melalui unit tersebut, mahasiswa dapat belajar berbagai aspek yang berkaitan dengan hospitality dan dunia usaha, mulai dari pelayanan konsumen, pengelolaan operasional, kewirausahaan, pemasaran, hingga membangun pengalaman pelanggan.

Konsep ini menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai peserta didik yang menerima materi di ruang kelas, melainkan juga sebagai pelaku yang berhadapan langsung dengan proses kerja dan dinamika pelayanan.

Dekan: Pembelajaran Harus Dekat dengan Dunia Usaha dan Dunia Kerja

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Nurain Jalaluddin, memberikan apresiasi terhadap Program Studi Usaha Perjalanan Wisata yang mengembangkan pembelajaran berbasis praktik melalui Cakrawala Coffee. Menurutnya, pengembangan unit usaha tersebut menunjukkan adanya upaya untuk membuat pembelajaran di perguruan tinggi semakin adaptif terhadap perubahan dan kebutuhan dunia kerja.

Mahasiswa, kata beliau, tidak cukup hanya memiliki pemahaman konseptual. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan profesional melalui pengalaman yang bersentuhan langsung dengan situasi nyata.

“Cakrawala Coffee menjadi salah satu wujud nyata kontribusi Program Studi Usaha Perjalanan Wisata dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Melalui keberadaan Cakrawala Coffee, mahasiswa juga dapat mempelajari pengelolaan usaha secara lebih terukur. Proses pembelajaran mencakup perencanaan, produksi, pelayanan, pemasaran, pencatatan, hingga evaluasi usaha. Dengan pola tersebut, kegiatan operasional Cakrawala Coffee tidak berdiri sendiri sebagai aktivitas bisnis, melainkan menjadi bagian dari proses pendidikan dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

Bukan Sekadar Seremoni

Koordinator Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Mustafa Mansur, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa peluncuran Cakrawala Coffee bukan sekadar seremoni peresmian sebuah unit usaha.

“Cakrawala Coffee bukan sekadar kopi, melainkan tentang kreativitas, transformasi, dan juga tentang tren,” ungkap Mustafa dalam sambutannya.

Menurut beliau, Cakrawala Coffee dirancang sebagai ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan praktik dunia usaha. Mahasiswa diharapkan dapat menerjemahkan teori yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam tindakan nyata, pelayanan, inovasi, dan pengalaman dengan konsumen.

Konsep tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bahwa dunia usaha tidak hanya berbicara mengenai produk yang ditawarkan, melainkan juga tentang bagaimana sebuah layanan dikelola dan bagaimana pengalaman dibangun bagi konsumen.

“Cakrawala Coffee bukan sekadar kedai kopi biasa, melainkan ruang perjumpaan antara teori akademik dengan dunia usaha,” jelasnya.

Filosofi di Balik Nama Cakrawala

Nama Cakrawala juga memiliki filosofi tersendiri. Mustafa menjelaskan, cakrawala berarti garis batas tempat seolah-olah langit dan bumi bertemu. Dalam pemaknaan tersebut, cakrawala menjadi simbol ruang pandang yang luas dan terbuka tanpa batas. Di balik cakrawala, matahari terbit sebagai simbol energi, harapan, dan semangat kehidupan.

Filosofi itu kemudian menjadi bagian dari identitas Cakrawala Coffee. Nama tersebut diharapkan merepresentasikan energi, inovasi, motivasi, dan semangat mahasiswa untuk terus berkembang.

Melalui ruang ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya belajar menjalankan sebuah unit usaha, melainkan juga berani memperluas cara pandang, mengembangkan kreativitas, dan menemukan berbagai kemungkinan baru dalam dunia kerja maupun kewirausahaan.

Belajar dari Pelayanan hingga Pengelolaan Usaha

Implementasi Teaching Factory memungkinkan proses pembelajaran berlangsung melalui pengalaman yang mendekati kondisi kerja di industri. Dalam pengelolaan Cakrawala Coffee, mahasiswa dapat berhadapan dengan berbagai situasi yang menuntut kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, ketelitian, kreativitas, serta orientasi terhadap kepuasan konsumen.

Pengalaman tersebut penting bagi mahasiswa Usaha Perjalanan Wisata karena kompetensi di bidang pariwisata dan hospitality tidak hanya dibangun melalui penguasaan teori, melainkan juga melalui interaksi, praktik pelayanan, dan kemampuan menghadapi situasi nyata.

Di Cakrawala Coffee, mahasiswa tidak hanya belajar membuat dan menyajikan produk. Mereka juga belajar bagaimana mempertahankan kualitas layanan, berkomunikasi dengan konsumen, memasarkan produk, serta memahami proses pengelolaan sebuah usaha.

Oleh karena itu, secangkir kopi di tempat tersebut memiliki makna yang lebih luas. Di balik aktivitas pelayanan terdapat proses pembelajaran; di balik pengelolaan usaha terdapat latihan kewirausahaan; dan di balik interaksi dengan konsumen terdapat pengalaman profesional.

Ditandai Pemotongan Tumpeng

Peluncuran Cakrawala Coffee ditandai dengan pemotongan nasi tumpeng oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun, Nurain Jalaluddin. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya operasional Cakrawala Coffee sebagai unit praktik pembelajaran dan kewirausahaan mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata.

Kegiatan ini turut dihadiri para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya, para Koordinator Program Studi di lingkungan FIB, Ketua Unit Penjaminan Mutu Fakultas Ilmu Budaya, Kepala Pengelola Teaching Factory, Senator Universitas, serta sejumlah dosen dan mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata maupun dosen dari program studi lainnya.

Kehadiran unsur pimpinan fakultas, pengelola akademik, dan civitas akademika tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan pembelajaran berbasis praktik di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Dengan beroperasinya Cakrawala Coffee, Program Studi Usaha Perjalanan Wisata menghadirkan satu lagi ruang bagi mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman langsung.

Di tempat ini, proses pendidikan tidak berhenti ketika perkuliahan di kelas selesai. Pengalaman melayani konsumen, mengelola usaha, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, hingga menciptakan inovasi menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi mahasiswa.

Cakrawala Coffee pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kopi. Tempat ini menjadi ruang pertemuan antara pembelajaran, pelayanan, kewirausahaan, dan pengalaman profesional—sebuah ruang yang diharapkan dapat membantu mahasiswa memperluas cakrawala berpikir sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Di balik setiap cangkir kopi, ada proses belajar. Di balik setiap pelayanan, ada pengalaman. Dan di balik Cakrawala Coffee, ada upaya menghadirkan pembelajaran yang semakin dekat dengan dunia nyata. (tim/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *