Jayapura, Papua – Selaku salah satu Tokoh Masyarakat Papua, Bernabas Suebu mengajak seluruh masyarakat dan pemerintah untuk menjaga serta melestarikan hutan sagu di tanah Papua sebagai sumber pangan utama yang memiliki nilai strategis bagi masa depan Papua dan bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Bernabas Suebu saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Sagu Papua yang digelar di Gedung Center of Science & Partnership Building, Universitas Cenderawasih, Jayapura, Sabtu 20/06/2026.

Dalam pemaparannya, Suebu menegaskan bahwa sagu merupakan anugerah Tuhan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua sejak turun-temurun.

“Saya lahir dan besar dengan makanan sagu. Sampai usia 80 tahun, saya tetap percaya bahwa sagu merupakan sumber pangan yang sehat dan menjadi salah satu alasan masyarakat Papua dapat hidup sehat dan panjang umur,” Ujarnya.

Menurut Suebu, sekitar 90 persen potensi sagu Indonesia berada di Tanah Papua, sementara sisanya tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan beberapa wilayah lainnya. Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada beras maupun gandum, melainkan mulai memperkuat pangan lokal yang tersedia secara alami di Papua.

“Sagu adalah anugerah yang harus kita jaga. Jika suatu saat terjadi krisis pangan global, masyarakat yang memiliki sumber pangan lokal seperti sagu akan lebih siap menghadapi tantangan tersebut,” Katanya.

Suebu juga menyoroti kondisi hutan sagu Papua yang terus mengalami penyusutan. Berdasarkan catatan yang dimilikinya, luas hutan sagu Papua yang pada era 1980-an diperkirakan mencapai sekitar tiga juta hektare kini tersisa sekitar 1,2 hingga 1,3 juta hektare.

“Hampir separuh hutan sagu Papua telah hilang. Ini merupakan ancaman serius bagi keberlanjutan pangan dan kehidupan masyarakat adat Papua,” Tegasnya.

Selain sebagai sumber pangan, Suebu menjelaskan bahwa seluruh bagian pohon sagu memiliki manfaat ekonomi dan kesehatan. Mulai dari daun untuk bahan bangunan tradisional, tepung sagu sebagai makanan pokok, hingga ulat dan jamur sagu yang memiliki kandungan gizi tinggi.

Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pangan berbasis sagu memiliki manfaat kesehatan yang baik karena memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras serta bebas gluten.

“Sagu bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga sumber kesehatan dan bagian dari kualitas sumber daya manusia Papua sejak usia dini,” Ujarnya.

Dalam aspek lingkungan, Suebu menekankan bahwa hutan sagu merupakan bagian penting dari ekosistem lahan basah Papua yang berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan serta menyerap emisi karbon.

Ia mengingatkan agar kebijakan pembangunan tidak mengorbankan kawasan hutan sagu yang memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Hutan sagu harus dikonservasi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Jangan mengubah hutan sagu menjadi lahan lain yang dapat mengancam keberlangsungan sumber pangan masyarakat Papua,” Paparnya.

Di akhir penyampaiannya, Suebu mengajak seluruh pihak untuk tidak berhenti pada diskusi dan seminar semata, melainkan mengambil langkah nyata dalam perlindungan dan pengembangan sagu Papua.

“Jangan hanya berhenti di seminar. Jangan hanya membahas persoalan. Yang paling penting adalah tindakan nyata untuk menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan sagu demi kesejahteraan masyarakat Papua dan ketahanan pangan Indonesia,” Tutupnya. (MnJ)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *