Ternate — Ijazah tidak lagi cukup menjadi satu-satunya modal lulusan untuk memasuki dunia kerja. Di tengah tuntutan industri yang semakin mengutamakan keterampilan yang terstandar, Program Studi Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun mulai memperkuat jalur pendidikan yang menghubungkan mahasiswa secara langsung dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA).
Langkah itu diwujudkan melalui kerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ternate dalam Program Transformatif Pembelajaran Berbasis Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA).
Kerja sama tersebut resmi ditandai dengan penandatanganan Perjanjian sekaligus Impleimentasi Kerja Sama antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun dan BPVP Ternate, Jumat (4/9/2026), di Ruang Rapat Kepala BPVP Ternate.
Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Dekan FIB Unkhair, Nurain Jalaluddin, S.S., M.A., dan Kepala BPVP Ternate, Abdul Aziz, S.T., M.SP.
Gebrakan ini menegaskan peran vital Prodi UPW Unkhair sebagai pilar utama pencetak SDM pariwisata di Maluku Utara yang tidak sekadar bergelar akademik, tetapi juga teruji dan tervalidasi oleh sertifikasi kompetensi berstandar nasional.
Dari Magang Meluas Jadi 8 Ruang Lingkup: Gebrakan Prodi UPW
Prodi UPW Unkhair membuktikan pengaruhnya dalam merancang arah pendidikan vokasi . Kerja sama yang semula berfokus pada penyelenggaraan magang mahasiswa, berhasil diperluas menjadi delapan ruang lingkup kerja sama transformatif, mencakup pengembangan SDM hingga fasilitasi sertifikasi kompetensi.
Ketua Prodi UPW FIB Unkhair Mustafa Mansur, S.S., M.Hum., mengatakan kerja sama dengan BPVP Ternate pada awalnya lebih berorientasi pada penyelenggaraan magang mahasiswa. Namun, setelah melalui pembahasan dan sinkronisasi draf kerja sama, cakupan kolaborasi diperluas menjadi delapan ruang lingkup.
Perubahan arah tersebut dinilai penting karena pendidikan vokasi tidak cukup hanya memberikan pengetahuan akademik. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman praktis sekaligus pengakuan atas kompetensi yang mereka miliki. Bagi Prodi UPW, sertifikasi kompetensi menjadi salah satu kebutuhan utama. Mahasiswa yang nantinya bekerja di sektor perjalanan wisata diharapkan tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga memiliki bukti kompetensi yang relevan dengan bidang pekerjaannya.
“Ini merupakan tuntutan dari program vokasi yang kami jalankan. Sertifikasi kompetensi yang berkaitan dengan bidang vokasi perjalanan wisata menjadi kebutuhan mahasiswa dan juga dosen,” kata Mustafa. Kebutuhan tersebut tidak hanya menyasar mahasiswa. Dosen Prodi UPW juga didorong memiliki sertifikasi kompetensi sesuai bidang vokasi yang diajarkan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan kualitas program studi dalam memenuhi tuntutan pendidikan vokasi dan akreditasi.
FIB Unkhair Dorong Lulusan Punya Nilai Tambah
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unkhair Nurain Jalaluddin menegaskan dukungan fakultas terhadap transformasi pembelajaran yang mengintegrasikan kampus dengan dunia industri dan dunia kerja. Menurutnya, mahasiswa UPW perlu memperoleh kompetensi tambahan yang melampaui kompetensi keilmuan yang diperoleh melalui pembelajaran reguler di program studi.
“Lulusan mahasiswa Prodi UPW tidak hanya dibuktikan dengan ijazah, tetapi juga dikuatkan dengan sertifikasi kompetensi vokasinya,” ujar Nurain. Ia menyebut skema pelatihan dan sertifikasi yang ditawarkan BPVP Ternate memberikan peluang yang sangat penting bagi penguatan pendidikan vokasi di lingkungan FIB Unkhair.
Bagi fakultas, kerja sama tersebut bukan hanya tentang pelaksanaan sebuah program, tetapi juga bagian dari upaya memastikan lulusan memiliki daya saing ketika berhadapan dengan kebutuhan pasar kerja. Karena itu, FIB Unkhair berkomitmen mengimplementasikan kerja sama tersebut sesuai kewenangan dan tugas pokok masing-masing pihak.
BPVP Buka Akses Kompetensi Vokasi
Dari sisi BPVP Ternate, kerja sama ini dipandang sebagai kesempatan memperluas akses perguruan tinggi terhadap pelatihan dan sertifikasi vokasi. Kepala BPVP Ternate Abdul Aziz mengatakan lembaganya memiliki sejumlah skema pelatihan dan sertifikasi kompetensi vokasi yang dapat diakses perguruan tinggi sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
“Kerja sama ini penting untuk memberikan akses yang luas lagi kepada perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya vokasi bagi masyarakat Maluku Utara,” kata Abdul Aziz.
Khusus untuk bidang perjalanan wisata, BPVP Ternate membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan berbagai kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa maupun tenaga pendidik. BPVP Ternate juga menyatakan terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi dengan Prodi UPW, sehingga kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dapat berkembang menjadi program konkret yang memberikan manfaat langsung.
Menangkap Perubahan Kebutuhan Industri Maluku Utara
Transformasi pembelajaran UPW juga diarahkan untuk membaca perubahan kebutuhan tenaga kerja di Maluku Utara. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FIB Unkhair Jainul Yusuf, S.S., M.Hum., menilai kemampuan Bahasa Mandarin menjadi salah satu kompetensi yang semakin relevan dengan perkembangan daerah. Pertumbuhan pusat-pusat industri yang berasal dari Tiongkok di Maluku Utara menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi dan beradaptasi dalam lingkungan kerja yang semakin beragam.
Menurut Jainul, kondisi tersebut membuka peluang bagi FIB Unkhair dan BPVP Ternate untuk memperluas bentuk kolaborasi, termasuk pengembangan kompetensi yang sesuai dengan perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Dengan demikian, kerja sama ini tidak hanya berbicara tentang mahasiswa UPW yang belajar di kampus, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi membaca perubahan ekonomi daerah dan menerjemahkannya menjadi kebutuhan kompetensi.
Kampus Tak Lagi Berjarak dengan Dunia Kerja
Kehadiran program magang, pelatihan, pengembangan kompetensi, dan sertifikasi dalam kerja sama tersebut menunjukkan perubahan pendekatan pembelajaran di Prodi UPW. Kampus tidak lagi ditempatkan sebagai ruang yang terpisah dari dunia kerja. Pengalaman industri, keterampilan praktis, dan sertifikasi diarahkan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mahasiswa.
Prodi UPW menjadi penggerak implementasi di tingkat program studi, FIB Unkhair memberikan dukungan kelembagaan dan akademik, sementara BPVP Ternate menghadirkan ekosistem pelatihan dan sertifikasi vokasi. Kolaborasi tiga unsur tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan Maluku Utara terhadap sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Bagi mahasiswa UPW, dampaknya diharapkan sederhana tetapi strategis: ketika memasuki dunia kerja, mereka tidak hanya mengatakan “saya lulusan perguruan tinggi”, tetapi juga mampu menunjukkan “ini kompetensi yang saya miliki dan telah teruji.” Di situlah transformasi pembelajaran berbasis DUDIKA menemukan relevansinya—mengubah ijazah dari sekadar tanda kelulusan menjadi bagian dari paket kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja. (tim/red)











