TERNATE — Menjelang Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih Ketua PSSI Maluku Utara periode 2026–2030, Ketua PSSI Kabupaten Pulau Morotai, Irfan Hi. Abd Rahman, mengingatkan agar ajang ini tidak sekadar menjadi seremoni pergantian kepemimpinan.

Menurutnya, KLB harus menjadi titik balik untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan sepak bola di Maluku Utara.

“Sepak bola Maluku Utara membutuhkan pembenahan sistem, bukan sekadar pergantian figur. Siapa pun yang terpilih nanti, tanggung jawab utamanya adalah memastikan kompetisi hidup, pembinaan berjalan, dan SDM berkualitas,” tegas Irfan.

Kongres biasa telah berhasil membentuk Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan PSSI sebagai perangkat penting untuk menjamin proses pemilihan berjalan secara demokratis, transparan, independen, dan sesuai dengan Statuta PSSI dan peraturan organisasi PSSI.

Irfan menyoroti belum berkesinambungannya kompetisi di Maluku Utara, seperti tidak terselenggaranya Liga 3 pada musim 2024–2026 dan Liga 4. Padahal, kompetisi yang teratur adalah “jantung” pembinaan agar klub dan pemain punya ruang berkembang.

“Kompetisi merupakan jantung pembinaan sepak bola. Tanpa kompetisi yang rutin teratur, klub kehilangan ruang untuk berkembang, pemain kehilangan kesempatan mengukur kualitas dan proses regenerasi atlet tidak berjalan sebagaimana mestinya”. ujarnya dengan nada tegas.

Selain kompetisi, Irfan menyebut Kemajuan sepak bola daerah sangat bergantung pada kompetensi pelatih, wasit, perangkat pertandingan, hingga pengelola klub yang mumpuni melalui pendidikan dan pelatihan prioritas serta pembinaan harus dibangun secara terstruktur mulai dari Sekolah Sepak Bola (SSB), kompetisi kelompok umur, hingga jalur pengembangan atlet menuju level yang lebih tinggi.

Irfan juga menenekan pentingnya PSSI Malut memperkuat sinergi dengan PSSI kabupaten/kota, klub, pemerintah daerah, KONI, dunia pendidikan, hingga pihak swasta guna memperkuat dukungan pendanaan dan infrastruktur.

Menutup pandangannya, Irfan berharap KLB kali ini mampu merumuskan rekomendasi agenda prioritas yang terukur agar prestasi dan ekosistem sepak bola di Maluku Utara memiliki masa depan yang jauh lebih jelas.

“Kita membutuhkan kepengurusan yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki visi, program kerja, dan kemampuan membangun sistem kompetisi serta pembinaan yang berkelanjutan. Ukuran keberhasilan kepengurusan bukan semata-mata kegiatan seremonial, melainkan sejauh mana sepak bola daerah mengalami kemajuan”. tutup Irfan. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *