Ambon, Maluku – 97 Tahun lalu pemuda bersumpah untuk bersatu namun hingga kini kami pemuda Evav bertanya “Untuk apa sumpah itu jika kesejahteraan belum terwujud.”

Demikian diungkapkan David Der Angelo Koanjanan selaku Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Evav (Permava) kepada media Kamis 29/10/2026.

Ia menyampaikan, selaku pemuda Evav, Provinsi Maluku dan masa depan bangsa, pihaknya berharap peringatan hari sumpah pemuda yang baru dirayakan, tepat setiap tanggal 28 Oktober hendaknya jangan dipahami sebagai kegiatan serimonial belaka, namun bagaimana Pemerintah mampu melahirkan kebijakan yang turut menguatkan sumpan pemuda tersebut.

“Kami melihat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti di upacara dan pidato. Sumpah harus hidup dalam kebijakan yang berpihak kepada pemuda.” Paparnya.

Dikatakanya, setiap bulan Oktober pemuda dipuja sebagai agen perubahan, namun setelah itu dilupakan. Saat ini pemuda Evav masih terus diperhadapkan dengan berbagai kesenjangan sosial, minimnya lapangan kerja, mahalnya biaya pendidikan, dan akses beasiswa yang tidak merata, dan dengan realita yang ada, maka banyak pemuda harus merantau jauh dari Evav hanya untuk bertahan hidup.

“Kami mengkritisi keras bahwa pemuda hanya dijadikan simbol seremonial, bukan subjek pembangunan. Pemerintah di Maluku Tenggara dan Kota Tual harus berhenti menjadikan pemuda sebagai hiasan acara.” Tandasnya.

Ia menambahkan, Sumpah Pemuda yang sejati adalah ketika pemuda Evav bisa kuliah tanpa takut biaya, bisa kerja tanpa harus tinggalkan kampung halaman, dan bisa bersuara tanpa dibungkam.

“Jika tidak, maka sumpah itu hanya akan jadi mantra kosong.” Tutupnya.

Reporter : 01NMP.
Editor : Elf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *