Morotai – Dua peselancar muda asal Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, berhasil menembus panggung Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Surfing 2026 di Bali. Keduanya adalah Elfendi Labaka dan Hendrik Labaka, atlet asal Desa Bido, Kabupaten Pulau Morotai, yang dipercaya membawa nama daerah ke kompetisi surfing tingkat nasional.

Kejurnas Surfing 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Oktober 2026 di Bali. Keikutsertaan dua atlet Morotai ini menjadi momentum penting bagi perkembangan olahraga surfing Maluku Utara sekaligus membuktikan bahwa potensi atlet dari wilayah kepulauan mampu menembus kompetisi nasional.

Ketua Harian Pengprov PSOI Maluku Utara, Arsad S. Sangaji, dalam keterangan persnya mengatakan, pihaknya mengirim dua atlet tersebut sebagai bentuk komitmen untuk memberikan ruang kepada peselancar muda Maluku Utara agar mendapatkan pengalaman dan jam terbang di level nasional.

Arsad S. Sangaji

“Atlet yang kami kirim adalah Elfendi Labaka dan Hendrik Labaka. Keduanya merupakan atlet asal Desa Bido, Pulau Morotai. Mereka akan membawa nama Maluku Utara di Kejurnas Surfing 2026 di Bali,” ujar Arsad.

Menurut Arsad, keikutsertaan dalam Kejurnas tidak hanya berkaitan dengan target medali, tetapi juga menjadi panggung pembuktian kemampuan, mental, dan kualitas atlet surfing Maluku Utara.

“Kompetisi nasional adalah tempat untuk mengukur sejauh mana kemampuan atlet kita. Mereka harus berani bersaing, berani menghadapi peselancar terbaik dari daerah lain, dan menjadikan setiap pertandingan sebagai pengalaman untuk berkembang,” tegasnya.

Dari Bido, Menantang Ombak Nasional

Kehadiran Elfendi dan Hendrik di Kejurnas 2026 membawa cerita tersendiri. Keduanya datang dari Desa Bido, sebuah wilayah di Pulau Morotai yang memiliki potensi bahari dan surfing yang besar.

Bagi PSOI Maluku Utara, potensi tersebut harus diubah menjadi kekuatan olahraga. Kekayaan laut dan karakter wilayah kepulauan tidak cukup hanya menjadi objek wisata, tetapi juga harus mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mengharumkan nama daerah.

Arsad menegaskan, pembinaan atlet surfing di Maluku Utara harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pencarian bibit, pembinaan usia muda, peningkatan kualitas pelatih, penyediaan fasilitas, hingga memperbanyak keikutsertaan atlet dalam kompetisi.

“Potensi atlet kita sangat besar. Yang dibutuhkan adalah pembinaan yang serius, berkelanjutan dan terukur. Jangan sampai anak-anak kita memiliki bakat, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan bertanding,” katanya.

Morotai Tak Lagi Sekadar Penonton

Keikutsertaan Elfendi Labaka dan Hendrik Labaka di Kejurnas Surfing 2026 menjadi pesan bahwa Morotai tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan olahraga surfing nasional.

Dari ombak Desa Bido, dua peselancar muda tersebut kini membawa nama Morotai ke panggung nasional. Mereka bukan hanya bertanding untuk diri sendiri, tetapi juga membawa harapan agar surfing Maluku Utara semakin diperhitungkan.

18–19 Oktober 2026 di Bali akan menjadi panggung pembuktian. Dari Morotai ke Bali, dari ombak Bido menuju panggung nasional.

PSOI Maluku Utara berharap keikutsertaan kedua atlet tersebut menjadi awal dari lahirnya lebih banyak peselancar muda berbakat dari Morotai dan wilayah kepulauan lainnya di Maluku Utara. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *