Jayapura, Papua – Semangat dan kerja keras menjadi kunci bagi pemilik namaTitus Obaipa, seorang fotografer muda asal Siriwo yang kini menekuni dunia fotografi sambil menjalani pendidikan di Universitas Muhammadiyah Papua, Jurusan Ilmu Komunikasi.
Kepada media ini Sabtu 18/07/2026 Titus menyampaikan, dirinya mulai tertarik pada dunia fotografer sejak tahun 2020, dan ketertarikannya lahir dari keinginannya untuk mengabadikan momen-momen berharga serta mengekspresikan kreativitas melalui foto dan video.
“ Saya tertarik menjadi fotografer karena ingin mengabadikan momen-momen berharga dan mengekspresikan kreativitas melalui foto dan video,” Ujar Titus saat diwawancarai.
Dalam perjalanan kariernya, Titus menyatakan terinspirasi oleh Yakobus Anouw dan Yulian Boma. Ia juga menyebut almarhum Yakobus Anouw sebagai sosok guru yang banyak mengajarinya teknik fotografi, pengaturan kamera, hingga berbagai aspek teknis lainnya.
Menurut Titus, masa-masa awal belajar fotografi bukanlah hal yang mudah. Bersama gurunya, ia sering menghabiskan waktu hampir setiap hari untuk berlatih di Pantai PLN dan sejumlah lokasi lainnya demi meningkatkan kemampuan memotret.
Kamera pertama yang dimilikinya adalah Nikon D3100 DSLR. Dari kamera tersebut, ia mulai membangun pengalaman dan kepercayaan diri dalam dunia fotografi.
Sejak April 2026, Titus aktif menawarkan jasa fotografi di kawasan Jembatan Merah, Kota Jayapura. Ia memilih lokasi tersebut karena ingin mencari pengalaman sekaligus memperkenalkan kemampuannya kepada masyarakat.
“Saya sendiri yang mempromosikan diri supaya orang-orang bisa mengenal dan mengundang saya untuk memotret di berbagai kegiatan,” Katanya.
Di Jembatan Merah, Titus melayani jasa foto dengan tarif Rp10.000 per foto. Sistem pembayaran dilakukan setelah foto selesai diproses dan dikirim kepada pelanggan. Menurutnya, hampir seluruh hasil fotonya berhasil terjual, selain itu dalam sehari, jumlah pelanggan yang datang cukup bervariasi. Saat ramai, ia dapat melayani antara 10 hingga 20 pelanggan, sedangkan pada hari-hari sepi hanya sekitar 1 hingga 10 pelanggan. Objek foto yang paling banyak diminati adalah foto keluarga dan pasangan, dan salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mendapat kesempatan melakukan shooting video untuk Grup ISMARI Akustik Kabupaten Sarmi.
Dari hasil usahanya sebagai fotografer, Titus mengaku mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan ketika jumlah pelanggan ramai. Penghasilan tersebut dinilai cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnya.
Meski demikian, membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Setiap hari, setelah menyelesaikan aktivitas kampus dan kegiatan lainnya, ia berusaha hadir di Jembatan Merah mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIT untuk melayani pelanggan.
“Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan sebagai fotografer agar keduanya tetap berjalan dengan baik,” Ungkapnya.
Titus mengakui pernah mengalami masa sulit ketika dua kali pulang tanpa memperoleh pelanggan. Kondisi tersebut sempat membuatnya hampir menyerah. Namun, nasihat dari Menase Tagi memberinya semangat baru untuk terus bertahan.
“Saya pernah dengar kata-kata dari Menase Tagi bahwa usaha itu tidak selalu ramai dan tidak selalu sepi. Kalau mau sukses dalam dunia usaha, kita harus bertahan. Kata-kata itu yang membuat saya bangkit lagi,” Tuturnya.
Untuk mempertahankan pelanggan, Titus selalu berusaha menjaga kualitas foto, bersikap profesional, serta memberikan pelayanan terbaik kepada setiap orang yang menggunakan jasanya.
Ke depan, ia bercita-cita menjadi fotografer profesional dan memiliki usaha fotografi sendiri yang akan diberi nama TOP’SELFI.
Selain itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan lebih banyak pelatihan, dukungan promosi, serta kesempatan berkarya bagi para fotografer muda Papua agar mampu mengembangkan potensi dan bersaing secara sehat.
“Berikan lebih banyak dukungan, pelatihan, dan kesempatan agar anak muda Papua bisa mengembangkan potensi serta berkarya,” Harapnya.
Kepada generasi muda Papua, Titus berpesan agar tidak mudah menyerah dalam mengejar impian.
“Tetap semangat dan jangan pernah menyerah, karena kesuksesan adalah milik orang yang terus berjuang dengan sungguh-sungguh,” Pesannya.
Sebagai putra asal Siriwo, Titus juga berharap generasi muda di Papua terlebih khususnya daerahnya dapat menyelesaikan pendidikan dan kembali membangun kampung halaman.
“Harapan saya, anak-anak Siriwo harus sekolah. Setelah selesai sekolah, kembali ke daerah dan membangun daerah itu sendiri,” Tutupnya.
Reporter : Melkias Obaipa.
Editor : Elf.









