Nabire, Papua Tengah – Forum Pegiat Literasi Papua Tengah (FPL PPT) mengapresiasi pihak Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) yang berinisiatif telah melaksanaan Lomba Pidato bagi Pelajar sebagai bagian dari upaya mendorong budaya literasi bagi generasi muda Papua.

YAPKEMA merupakan salah satu Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat yang juga adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan didirikan pada 15 Oktober 1999 di Papua. Organisasi ini berfokus memberikan bantuan kemanusiaan serta pemberdayaan masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah adat Meepago, Papua Tengah.

Ketua FPL PPT Aleks Giyai kepada media ini Kamis, 22/10 2026 menyampaikan, lomba pidato pelajar yang digelar YAPKEMA diharapkan bukan sekadar ajang kompetisi. Namun lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang pendidikan yang memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan menyampaikan gagasan secara terstruktur di hadapan publik, sehingga semua kalangan selayaknya berpikir positif demi membangun generasi muda Papua yang memiliki kemampuan literasi, keberanian berbicara, serta pola pikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan pendidikan.

“Lomba pidato pelajar bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana kita memberikan ruang kepada generasi muda untuk belajar berpikir, menyampaikan pendapat, membangun argumentasi, dan mengembangkan kepercayaan diri. Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar pelajar Papua memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing,” Papar Aleks Giyai.

FPL PPT menilai kegiatan serupa penting untuk dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi di Papua Tengah. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi harus berkembang menjadi kemampuan memahami persoalan, mengolah pengetahuan, mengemukakan pendapat, serta mengambil bagian dalam kehidupan sosial dan pembangunan masyarakat.

Selain itu Aleks Giyai berpendapat, pelajar Papua perlu diberikan ruang yang luas untuk berbicara, berpikir, dan menyampaikan gagasan tentang masa depan negerinya. Melalui kegiatan pidato, mereka dapat belajar membangun kepercayaan diri, menghargai perbedaan pendapat, serta mempertanggungjawabkan pemikiran melalui argumentasi yang baik dan terstruktur.

“Kami berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak sekolah, guru, komunitas literasi, orang tua, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Kolaborasi tersebut penting agar budaya literasi tumbuh tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga, gereja, kampung, dan ruang-ruang publik.” Harapnya.

Bukan hanya itu, FPL PPT juga mendorong agar lomba pidato pelajar menjadi bagian dari gerakan literasi kontekstual yang mengangkat bahasa, budaya, sejarah, cerita rakyat, persoalan sosial, serta cita-cita generasi muda Papua. Dengan demikian, pelajar tidak hanya belajar berbicara dengan baik, tetapi juga mampu membangun pengetahuan yang berakar pada identitas dan realitas kehidupannya.

Aleks Giyai menegaskan bahwa penguatan budaya literasi membutuhkan dukungan dan keterlibatan bersama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan yang memberikan ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir, membaca, menulis, dan berbicara perlu terus didukung sebagai investasi bagi masa depan generasi muda Papua Tengah.

“Forum Pegiat Literasi Papua Tengah menyampaikan apresiasi kepada YAPKEMA atas terselenggaranya kegiatan tersebut, dan lomba pidato pelajar dapat menjadi salah satu langkah nyata dalam menumbuhkan generasi Papua yang literat, kritis, percaya diri, serta berani menyuarakan gagasan demi masa depan Papua Tengah yang lebih baik.” Tandasnya.

Reporter : Malkias Obaipa.
Editor : Elf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *